Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

a photoidiot

photojournal

Ini cerita tentang keluarga pak Beruang Madu Kurus. Alkisah, pak Beruang Madu Kurus adalah seorang lelaki lajang yang dikaruniai tiga orang anak. Lho, katanya lajang? Suka-suka aku dong, kan aku yang cerita. Bukan tiga anak kandung sekalipun terdapat banyak sekali kemiripan fisik wajah dan karakter, mereka anak asuh. Pak Beruang Madu Kurus menyayangi ketiga-tiganya dengan sangat.

Ciko yang tertua, adalah si bandel yang tak pernah bisa diatur oleh pak Beruang Madu Kurus. Menurut tuturan pak Beruang, Ciko ini adalah blasteran antara petarung berrahang kuat dengan peranakan kampung yang tak jelas asal-usulnya. Entah bisa dipercaya atau tidak, Ciko memang kuat, rahang dan polah tingkahnya seolah-olah tak kenal rasa lelah. Melompat ke sana dan melompat ke sini. Rasa ingin tahunya kadang mengajaknya melarikan diri dari rumah Pak Beruang Madu Kurus yang nyaman dan bersih. Pak Beruang sampai pusing dibuatnya.

Si Bengal Ciko tidak sendirian lagi ketika pak Beruang Madu Kurus memutuskan untuk mengadopsi satu lagi. Si Kecil ini bernama Bagong, berjenis kelamin jantan, sifatnya pemalu, persis dengan pak Beruang Madu Kurus. Bagong lantas menjadi kesayangan pak Beruang. Dibandingkan dengan Ciko, yang satu ini setia dan patuh sekali dengan perintah pak Beruang Madu Kurus. Tidurpun ia akan setia menunggu di depan kamar pak Beruang, sementara tuannya itu mendengkur di kasur hangatnya. Bagong tak senakal Ciko: ia tak suka menggonggong keras dengan tiba-tiba, ia malu kepada tamu pak Beruang Madu Kurus, terutama tamu-tamu tak dikenal. Mungkin ia lebih cocok jadi kucing daripada jadi anjing.

Bagong pun tetap menjadi yang termuda di antara keduanya…

Hingga suatu hari, pak Beruang Madu Kurus harus menjemput gadis kecil pemberani yang datang dari Jakarta naik kereta api sendirian tanpa kedua orang tuanya… Gadis cilik itu namanya Srinthil, kalau kata pak Beruang, namanya Maria Srinthil Wati. Srinthil, lagi-lagi blasteran antara gembala Jerman dengan penarik kereta di daerah kutub. Mempesona sekali parasnya. Gagah, tetapi sungguh terasa mengagetkan saat kita menatap matanya. Yang satu berwarna coklat layaknya penggembala dari Jerman itu, yang satunya mempunyai tepian putih kebiruan, layaknya pekerja daerah kutub. Saat ini, Srinthil menginjak usia yang ke 6 bulan. Tetapi besarnya sudah 2 kali lipat dari Bagong ataupun Ciko…

Terkadang Bagong, si anjing pemalu yang setia itu iri akan kehadiran Srinthil. Tetapi ia tak pernah berani protes, paling-paling malah ia akan menggoda gadis kecil yang dua kali lipat ukurannya itu, seolah-olah seperti remaja cowok sedang ngecengin cewek cantik. Ah, Bagong memang unik. Ia tak pernah mau kalah dengan Srinthil yang bisa mengejar bola dan membawa kembali ke bapak asuhnya. Bagong pun lari ikut mengejar, tapi ia tak pernah mengerti, kenapa bola itu harus dikembalikan. Paling ia hanya akan mengendus bulatan karet itu dan kembali pada pak Beruang Madu Kurus seolah melapor “Pak, nggak ada apa-apa tuh!”

Dasar Bagong… Albertus Bagong…

Malam itu sudah larut, pak Beruang Madu Kurus sedang menjejalkan roti tawar dilapisi meses coklat ke mulutnya di meja makan, dan Bagong duduk di lantai, memandang ke atas dan mengisyaratkan “bagi dong!”
Pak Beruang cuek aja, lantas berkata, “Kamu makan tulang mainanmu itu aja” seraya memberikan tulang mainan berwarna coklat tua yang katanya rasa kacang. Si jinak itu pun menggerogoti makanan itu dengan asyik, tak peduli dengan apapun.

Semakin larut malam berkembang, Bagong semakin mendekatkan diri dengan pak Beruang, hingga tiba-tiba pak Beruang kaget melihat isi telinga Bagong…Kutu penghisap darah bersarang di sana. Tiga hari sebelumnya, pak Beruang baru saja membersihkan telinga anak asuh kesayangannya itu, tetapi entah dari mana kutu penghisap darah itu muncul lagi. Tampaknya tertular dari Ciko, teman sekamarnya di asrama lelaki. Srinthil yang tinggal di asrama perempuan tidak tertular.

Alkohol, pinset, cotton buds pun segera dikeluarkan untuk melakukan operasi anti parasit. Pasrah tapi menahan kesakitan, ia tak bisa menolak apapun yang dilakukan pak Beruang…
Pak Beruang bergidik, hidungnya terasa gatal, bulu kuduknya berdiri merinding melihat kutu. Bagong pasrah.

Jarum jam melemparkan petunjuk waktu sudah mendekati tengah malam. Pak Beruang selesai dengan Bagong, matanya sudah berat dan tak kuasa menahan rasa kantuk…Menguap lagi dan menguap lagi. Pintu ditutup, dan kita tak tahu lagi apa kabar pak Beruang Madu Kurus, Bagong di sana. Srinthil dan Ciko telah lama tertidur di asrama mereka masing-masing, sementara langit di atas Bugisan gelap tanpa awan.

Selamat tidur, pak Beruang Madu Kurus, Ciko, Bagong, Srinthil! Sampai jumpa lagi.



Album keluarga Pak Beruang Madu Kurus
  

Pak Beruang Madu Kurus dan Ciko...
  

Pak Beruang Madu Kurus dengan Bagong
  

Albertus Bagong di tepian meja makan
 1 Comment 

Man's best friend...
  

Bagong selalu takut menatap dirinya di cermin
  

Matanya menawan...
  

Bagong terkadang iri kepada si cantik Srinthil
  

Asyik dengan tulangnya
  

Berburu kutu di tubuh Bagong
  

Kutu penghisap darah diambil dengan pinset
  

Geli, tapi pasrah
  

Albertus Bagong
  


groban5150 wrote on Apr 12, '08
aku booking anake Srinthil...!!!!
doubletape wrote on Apr 12, '08, edited on Apr 12, '08
@groban: nek gelem, kowe karo srinthil wae!!! atau jangan2 mau dengan mbak cleopatra?
groban5150 wrote on Apr 12, '08
lha rencanaku malah kowe je sing arep tak kawinke...koe kan umure wis pas...hahahahhahahahahaha
doubletape wrote on Apr 12, '08
guk..gak mauuuuu!!!!
astaganaga wrote on Apr 13, '08
kalo di adu sama anjing ku "HERDER BAD COPY" pie ...


tapi harus di kuali .. :P
cisoka wrote on Apr 13, '08
Cerita yang menarik mas...:D
cisoka wrote on Apr 13, '08
LUTCHUUUUUUUUUUUUUUUUU....
*pingin tak uyel-uyel nih si Bagong*
tournier wrote on Aug 10, '08
nice story
yg peranakan husky itu anjing yg cantik
mahatmasiwi wrote on Sep 29, '08
you are such a story teller....
Add a Comment